tituitcom

Membaca Hati Pikiran Orang Tak Semudah Membaca Cerita Bergambar

Pada dasarnya membaca isi hati atau pikiran seseorang tidaklah semudah membaca cerita bergambar. Kesimpulan yang keliru akan menguras energi, yang seharusnya bias kita mnfaatkan untuk berkreasi, berkarya atau menciptakan perubahan kreatif lainnya .Pesan Dari : azizisme.blogspot.com : Terkadang Hasrat Copypaste Lebih Mendominasi Dari Pada Membaca Dan Menghayati
PETANI DAN SEEKOR SINGA - Alkisah ada seorang petani yang tersesat di hutan. Ia sudah berusaha mencari jalan keluar di hutan itu tetapi selalu gagal. Ketika energinya sudah benar-benar terkuras tiba-tiba ia dihadang oleh seekor singa yang sedang lapar.

Dalam keadaan yang sangat terjepit, tak ada tenaga dan tak thu jalan keluar, petani itu hanya dapat mengingat Tuhan. Ia segera menengadahkan tangan untuk berdoa. Ia sangat berharap adanya keajaiban yang membebaskannya dari celaka.

Pada saat yang sama singa itu menengadahkan dua kaki depannya dan berdoa. Sang petani heran dan berbisik dalam hati,” Apakah singa ini berdoa agar dimaafkan kesalahannya?” Padahal singa itu sedang berdoa, “Ya Tuhanku terimakasih atas kemurahan hati-Mu, hari ini Kau telah sediakan santapan yang begitu lezat untukku.!” Pesan Dari : azizisme.blogspot.com : Terkadang Hasrat Copypaste Lebih Mendominasi Dari Pada Membaca Dan Menghayati

PESAN
Jangan cepat membuat asumsi karena mengandung resiko kesalahan yang besar, dan itu sangat membahayakan diri kita. Petani itu terlalu cepat berasumsi bahwa singa tidak akan memangsanya. Sebaliknya singa adalah binatang buas yang sedang berterima kasih kepada Tuhannya dan bersiap menyantap sang petani.

Keputusan untuk mengikuti asumsi yang keliru tak ayal akan membuat sang petani celaka. Ia justru tetap berada di tempat, menunggu detik-detik celaka benar-benar menyergapnya. Bagaimanapun juga seharusnya ia berlari kencang atau mencari cara lain untuk melarikan diri. Tetapi kita tentu maklum dalam keadaan yang bingung, takut, sekaligus pasrah seperti yang dialami oleh sang petani sangat kecil kemungkinan ia dapat berasumsi tepat.

Sama seperti kehidupan kita sehari-hari, jangan pernah membuat kesimpulan dalam keadaan diri kita sedang labil, misalnya bingung, putus asa, cemburu ataupun sedang mengalami perasaan tidak nyaman lainnya. Dalam keadaan diri kita sedang labil, sangat mungkin asumsi kita keliru dan mendorong suatu tindakan yang membahayakan diri kita. Begitupun bila kita melihat tingkah laku atau perkataan orang lain, jangan terburu-buru membuat kesimpulan bahwa orang itu baik atau buruk.

Pada dasarnya membaca isi hati atau pikiran seseorang tidaklah semudah membaca cerita bergambar. Kesimpulan yang keliru akan menguras energi, yang seharusnya bias kita mnfaatkan untuk berkreasi, berkarya atau menciptakan perubahan kreatif lainnya. Lebih dari itu, tindakan yang keliru sangat mudah memicu ketegangan, perselisihan, demo, pengrusakan dan bahkan peperangan.

Tetapi bukan berarti kita harus takut untuk membuat keputusan berdaarkan kesimpulan-kesimpulan yang telah didapatkan. Kita kaan mendapatkan keuntungan yang lebih besar bila kita juga berkemauan untuk mempertanggungjawabkan atau mengoreksi kembali segala kesimpulan yang telah kita ciptakan. Asumsi atau kesimpulan yang keliru merupakan penyebab utama kegagalan. “Oleh sebab itu jangan pertah takut untuk mengoreksi kembali apakah kesimpulan yang telah kita ciptakan itu benar ataukah salah,” terang Brian Tracy.

Berhati-hatilah dalam menciptakan suatu kesimpulan. Andai masih terdapat kesalahan kita harus belajar dari kesalahan itu agar lebih berhati-hati dalam langkah selanjutnya. Socrates berkata, “Sukses berassal dari kesimpulan yang tepat, kesimpulan yang tepat berasal dari pengalaman, pengalaman berasal dari kesimpulan yang keliru.”

Pesan Dari : azizisme.blogspot.com : Terkadang Hasrat Copypaste Lebih Mendominasi Dari Pada Membaca Dan Menghayati .

Related

KISAH RENUNGAN 564236288165436064

Post a Comment

ads

Google+ Followers

Text Widget

Connect Us

test
item